PIJARAN – Sebuah narasi besar tentang peradaban maritim dunia kini tengah menjadi sorotan di Sulawesi Barat.
Melalui perhelatan Festival Dipangkara yang berlangsung mulai 16 hingga 19 April, publik diajak melintasi lorong waktu menuju masa di mana Mamuju menjadi titik penting dalam peta pelayaran global.
Inti dari festival ini adalah mengenang kembali penemuan bersejarah Patung Buddha Amaravati di wilayah Mamuju pada tahun 1921.
Penemuan ini bukan sekadar benda purbakala biasa, tetapi hasil penelitian arkeolog yang mendalam mengungkapkan bahwa patung tersebut berasal dari abad ke-2 Masehi.
Data ini menjadi bukti autentik bahwa Mamuju telah bersentuhan dengan jaringan perdagangan dan penyebaran budaya lintas samudra sejak ribuan tahun lalu.
”Festival ini bukan sekadar seremonial, melainkan pernyataan kepada dunia bahwa sejarah peradaban maritim yang besar ada di sini, di Mamuju,” ujar, Ibnu Abadi, Creative Director Event.
Selama empat hari penyelenggaraan, Festival Dipangkara menghadirkan berbagai kegiatan yang mengemas sejarah dalam balutan seni dan edukasi :
- Mengulas kembali momen ditemukannya simbol peradaban Buddha tertua di Indonesia.
- Menampilkan keterkaitan antara jalur pelayaran kuno dengan posisi strategis Sulawesi Barat.
- Membedah hasil penelitian patung bergaya Amaravati yang membuktikan koneksi Mamuju dengan India Selatan di masa lampau.
Kehadiran patung Buddha bergaya Amaravati di Mamuju merupakan salah satu bukti arkeologis tertua mengenai pengaruh budaya luar di Nusantara.
Penyelenggaraan festival ini diharapkan mampu membangkitkan kebanggaan lokal sekaligus memosisikan Mamuju sebagai destinasi wisata sejarah yang diperhitungkan di kancah internasional.
Bagi Anda yang ingin menyaksikan bagaimana sejarah dunia bernapas kembali di tanah Manakarra, Festival Dipangkara masih akan berlangsung hingga 19 April besok.


