Politik

Siapa Jalaluddin ? Sosok Sederhana yang Kini Jadi Perbincangan Politik Sulbar

PIJARAN — Di tengah dinamika politik pasca wafatnya Wakil Gubernur Sulawesi Barat, Salim S Mengga, perhatian publik kini tertuju pada figur-figur yang dinilai mampu melanjutkan estafet kepemimpinan di provinsi tersebut.

Dari sejumlah nama yang mengemuka, sosok Jalaluddin tampil dengan narasi yang kuat dan membumi sebuah refleksi kepemimpinan yang lahir dari rakyat dan tumbuh bersama rakyat.

Jalaluddin bukan sekadar politisi. Ia adalah representasi nyata masyarakat Sulawesi Barat. Lahir dan besar di tanah Mandar, ia memahami secara utuh denyut kehidupan warga, bukan dari balik meja kekuasaan, melainkan dari pengalaman hidup sehari-hari.

Perjalanan kepemimpinannya dimulai dari tingkat paling dasar, sebagai kepala desa di Polewali Mandar pada periode 2009–2014. Dalam masa pengabdiannya, ia dikenal sebagai pemimpin yang hangat dan humanis, namun tetap menjunjung tinggi kedisiplinan dan ketegasan dalam mengambil keputusan.

Kesederhanaan menjadi ciri khasnya. Ia hadir bukan hanya sebagai pejabat, tetapi sebagai pengayom yang benar-benar menyatu dengan masyarakat.

Kemiskinan di Papua Masih di Atas Nasional, Mendagri Soroti Kesenjangan Antarwilayah

Yang menjadikan Jalaluddin kian menonjol adalah pilihan hidupnya setelah tidak lagi menjabat. Alih-alih melanjutkan karier politik secara instan, ia kembali ke akar menjadi petani. Sebuah keputusan yang tidak hanya menunjukkan kerendahan hati, tetapi juga konsistensi dalam memahami dan menjalani kehidupan rakyat secara langsung.

Di tengah aktivitasnya sebagai petani, ia tetap aktif membangun relasi sosial yang kuat. Kejujuran, ketekunan, dan kedekatannya dengan masyarakat semakin menguatkan citra dirinya sebagai pemimpin yang tidak terpisah dari realitas.

Kepercayaan publik pun kembali mengantarkannya menjabat sebagai kepala desa pada 2019. Namun, sekali lagi Jalaluddin menunjukkan bahwa jabatan bukanlah tujuan utama. Pada 2023, ia mengambil langkah strategis dengan mengundurkan diri untuk maju sebagai calon legislatif 2024, dengan semangat memperluas ruang pengabdian bagi masyarakat Sulawesi Barat.

Kini, sebagai anggota DPRD Provinsi Sulawesi Barat, kiprahnya semakin diperhitungkan. Dukungan terhadapnya tidak hanya datang dari akar rumput, tetapi juga mengalir dari tingkat pusat. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) melalui DPP disebut mendorong agar nama Jalaluddin masuk dalam bursa calon Wakil Gubernur Sulawesi Barat.

Dorongan tersebut dinilai beralasan. Jalaluddin memiliki rekam jejak kepemimpinan yang lengkap dari desa hingga provinsi ditopang integritas yang teruji serta kedekatan emosional yang kuat dengan masyarakat.

Data BPS Dipertanyakan, DPRD Mamuju Temukan Ketidaksesuaian Data Kemiskinan

Ia tidak hanya memahami kebijakan sebagai konsep, tetapi juga mengerti dampak nyata yang dirasakan masyarakat di lapangan.

Di tengah kebutuhan akan kepemimpinan yang tidak hanya kompeten, tetapi juga berempati dan berintegritas, Jalaluddin hadir sebagai salah satu figur yang dinilai mampu menjawab tantangan tersebut.

Ia adalah potret kepemimpinan yang tumbuh dari bawah, ditempa oleh pengalaman nyata, dan tetap berpijak pada nilai-nilai kedekatan dengan rakyat.

Jika Sulawesi Barat mencari sosok pemimpin yang mampu melanjutkan pembangunan dengan pendekatan yang inklusif dan berkeadilan, maka nama Jalaluddin kini semakin menemukan relevansi dan momentumnya.

DPRD Mamuju Soroti BPJS Tak Aktif, Warga Miskin Gagal Akses Layanan Kesehatan

Artikel Terkait

Bagikan

× Advertisement
× Advertisement