MAMUJU, PIJARAN – Aktivis Perempuan yang juga kader Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI) Pimkot Mamuju, Nurul Azwanie Ahmad, mendesak pemerintah segera melakukan evaluasi secara sistematik, usai seorang ibu berinisial AM (51) tewas ditabrak truk TNI di Jalan Utan Jati, Kalideres, Jakarta Barat, pada 3 April 2026 lalu.
Menurut Nurul, peristiwa tersebut tidak dapat dipandang semata sebagai kecelakaan lalu lintas biasa, melainkan menjadi peringatan serius terhadap keamanan masyarakat sipil, khususnya perempuan di ruang publik.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, korban tengah mengendarai sepeda motor saat iring-iringan lima unit truk TNI melintas. Meski korban telah berupaya menepi, kendaraan yang dikendarainya tetap tersambar truk kedua hingga terpental dan kemudian terlindas.
“Kami mendorong pemerintah bersama instansi terkait untuk mengevaluasi secara sistematik dan membatasi pergerakan konvoi kendaraan berat, khususnya kendaraan militer pada jam-jam sibuk di jalan protokol dan kawasan permukiman, guna mencegah kejadian serupa terulang,” ujar Nurul lewat keterangan tertulis yang diterima wartawan, Senin, 13 April 2026.
Dia menegaskan bahwa ruang publik harus menjadi tempat yang aman bagi semua orang, terutama perempuan dan ibu, apalagi berstatus tulang punggung keluarga.
“Kami tidak menerima dalih ‘murni kecelakaan’ tanpa adanya evaluasi sistemik. Prosedur iring-iringan kendaraan militer di wilayah padat penduduk harus ditinjau ulang demi menjamin hak rasa aman warga sipil,” tegasnya.
Meski TNI AD melalui Kadispenad telah menyampaikan permohonan maaf serta tengah melakukan pemeriksaan terhadap sopir truk yang terlibat, Namun Nurul tetap mendesak agar proses pemeriksaan oleh Polisi Militer dilakukan secara terbuka, transparan, dan akuntabel.
Selain itu, dirinya mengingatkan institusi TNI wajib bertanggung jawab terhadap keberlangsungan hidup keluarga yang ditinggalkan.
“Kehilangan seorang ibu bukan hanya duka emosional, tetapi juga membawa dampak sosial dan ekonomi yang signifikan,” kata Nurul.


