PIJARAN – Sebuah langkah besar dalam pelestarian identitas sejarah nusantara segera hadir. Festival Dipangkara – Jejak Maritim Sulawesi dijadwalkan berlangsung pada bulan April 2026. Acara ini bukan sekadar perayaan, melainkan upaya kolektif untuk mengangkat kembali narasi kejayaan bahari Sulawesi Barat ke panggung nasional.
Didukung penuh oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, festival ini lahir dari kolaborasi lintas komunitas yang memiliki kepedulian tinggi terhadap sejarah dan budaya. Nama “Dipangkara” diambil dari Arca Buddha Dipangkara, artefak perunggu yang ditemukan di pesisir Mamuju pada tahun 1921.
Penemuan Arca Buddha Dipangkara menjadi bukti tak terbantahkan bahwa perairan Sulawesi Barat telah menjadi bagian dari jaringan perdagangan maritim internasional sejak masa lampau. Dengan gaya arsitektur Amarāwatī khas India Selatan, arca yang berasal dari abad ke-2 Masehi ini merupakan arca Buddha tertua dan berdiri terbesar di jenisnya yang ada di Indonesia.
Kini, artefak yang telah ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya Peringkat Nasional tersebut tersimpan sebagai koleksi paling kuno di Museum Nasional Indonesia.
Keberadaannya mengonfirmasi bahwa nusantara telah terhubung dengan dunia luar jauh sebelum era kerajaan-kerajaan besar berdiri.
Festival ini dirancang sebagai ruang kolaborasi bagi kelompok masyarakat untuk merefleksikan kembali jati diri maritim mereka.
Kegiatan ini diinisiasi dan dilaksanakan melalui sinergi kuat antara:
- PC KOPRI PMII Mamuju
- Karama Nusantara
- Malaqbi Institute
- Pitu Sinema
”Inilah saatnya menjadikan ruang ini sebagai kesempatan berharga bagi generasi muda dan masyarakat luas untuk mengenal lebih dalam sejarah kebudayaan Mamuju,” ungkap Amanda, perwakilan penyelenggara.
Melalui Festival Dipangkara, sejarah yang selama ini tersimpan dalam catatan arkeologi dihidupkan kembali sebagai sarana edukasi dan refleksi. Masyarakat diajak untuk mencintai kekayaan warisan leluhur yang membuktikan bahwa Sulawesi Barat memiliki peran sentral dalam peta maritim dunia selama ribuan tahun.
Mari bersiap menyambut kehadiran festival ini sebagai momentum memperkuat identitas bahari dan mencintai kekayaan peradaban kita sendiri.


