PIJARAN OPINI – Kondisi geopolitik dan ekonomi global hari ini sedang tidak baik-baik saja. Gangguan rantai pasok pangan dunia dan fluktuasi harga komoditas bukan lagi sekadar isu di berita internasional, melainkan ancaman nyata yang bisa mengetuk pintu dapur setiap rumah tangga di Kabupaten Mamuju. Di tengah situasi ini, Pemerintah Kabupaten Mamuju harus melihat kembali harta karun yang kita miliki, bentang pesisir yang panjang dan tanah agraris yang subur.
Membangun ketahanan pangan lokal bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keharusan strategis. Mamuju tidak boleh hanya menjadi penonton atau pasar bagi produk luar. Kita perlu mengubah paradigma, dari sekadar eksploitasi mentah menjadi pengelolaan berbasis pemberdayaan masyarakat lokal.
Mengapa Harus Sekarang?
Ketergantungan pada pasokan logistik luar daerah membuat ekonomi kita rentan. Jika terjadi krisis distribusi, harga pangan akan melambung tinggi. Dengan memperkuat sektor pertanian dan pesisir secara mandiri, Mamuju sebenarnya sedang membangun “benteng” ekonomi yang paling tangguh. Masyarakat yang berdaya di desa-desa adalah kunci utama agar roda ekonomi lokal tetap berputar meski badai global menerjang.
Langkah Strategis Dari Desa Menuju Kemandirian
Pemerintah Kabupaten perlu mendorong langkah-langkah konkret yang bisa langsung diterapkan di tingkat desa dan kelurahan. Berikut adalah beberapa ide dan langkah taktisnya:
1. Transformasi Sektor Pertanian (Hulu)
- Diversifikasi Tanaman Pangan: Jangan hanya terpaku pada satu komoditas. Dorong petani di desa untuk menanam tanaman pendamping (palawija) yang memiliki daya tahan tinggi dan masa panen cepat.
- Korporasi Petani Desa: Membentuk koperasi atau kelompok tani yang lebih profesional. Tujuannya agar petani memiliki posisi tawar yang kuat saat berhadapan dengan tengkulak dan akses yang lebih mudah ke permodalan.
- Inovasi Pupuk Organik Mandiri: Di tingkat kelurahan/desa, pemerintah bisa memfasilitasi pelatihan pembuatan pupuk organik dari limbah domestik atau pertanian guna menekan biaya produksi di tengah mahalnya pupuk kimia.
2. Revitalisasi Sektor Maritim dan Pesisir (Hilir)
- Hilirisasi Produk Perikanan: Nelayan jangan hanya menjual ikan tangkapan segar. Desa pesisir harus didorong memiliki unit pengolahan semi-modern (misal: pengasapan, pembuatan abon, atau pembekuan standar ekspor) untuk meningkatkan nilai tambah.
- Zonasi Budidaya Berkelanjutan: Memetakan potensi pesisir untuk budidaya rumput laut atau keramba yang ramah lingkungan, memastikan masyarakat lokal menjadi aktor utama, bukan pihak luar.
3. Literasi Ekonomi dan Teknologi di Kelurahan
- Digitalisasi Pemasaran: Kelurahan bisa menjadi hub atau pusat pelatihan bagi pemuda desa untuk membantu memasarkan produk pertanian dan perikanan melalui platform digital (e-commerce lokal).
- Sistem Logistik Desa: Membangun lumbung pangan modern di tingkat desa sebagai cadangan strategis saat musim paceklik atau gangguan distribusi global.
Kesimpulan
Memperhatikan sektor pertanian dan pesisir bukan hanya soal memberi bantuan bibit atau alat tangkap. Ini adalah soal membangun ekosistem di mana masyarakat lokal merasa memiliki dan mampu mengelola kekayaan alamnya sendiri.
Jika pemerintah kabupaten mampu mengorkestrasi kekuatan di tingkat desa dan kelurahan dengan tepat, Mamuju tidak hanya akan selamat dari krisis pangan global, tapi juga akan muncul sebagai lumbung ekonomi baru di koridor strategis Indonesia.
Saatnya kita kembali ke tanah dan laut kita sendiri dengan cara-cara yang lebih cerdas dan berdaulat.
Oleh: Kamin Islamin


