Lokal

Jejak Sejarah Salu Tallung Kaju, Kehadatan yang Lahir dari Kesepakatan Leluhur di Kerajaan Mamuju

PIJARAN MAMUJU – Di tengah hiruk pikuk perkembangan wilayah Kota Mamuju, tersimpan jejak sejarah yang telah terpatri lintas generasi. Di pelosok wilayah yang dahulu berada dalam kekuasaan Kerajaan Mamuju, berdiri sebuah kehadatan yang dikenal dengan nama Salu Tallung Kaju.

Salu Tallung Kaju lahir dari rumpun masyarakat Pitu Ulunna Salu, sebuah komunitas adat yang secara historis mendiami tiga anak sungai di wilayah pedalaman kerajaan.

Secara harfiah, “Salu Tallung Kaju” bermakna tiga sungai yang menjadi penanda geografis sekaligus identitas sosial masyarakatnya.

Ditemui jurnalis Pijaran.com di kediamannya, salah satu generasi tokoh Salu Tallung Kaju, Bustan R (Bani), menuturkan bahwa kehadatan tersebut bukanlah terbentuk tanpa dasar sejarah.

“Salu Tallung Kaju ini adalah kehadatan yang lahir dari masyarakat Pitu Ulunna Salu yang datang di pelosok Kerajaan Mamuju, dengan kesepakatan dan izin kerajaan pada masa lalu,”ungkapnya.

Safari Ramadan Jamkrindo Sentuh Warga Mamuju, Sembako Dibagikan Serentak se-Indonesia

Menurut Bustan,R
keberadaan Salu Tallung Kaju merupakan hasil kesepahaman antara leluhur mereka dengan pihak kerajaan.

Kesepakatan itu menjadi landasan hukum adat yang mengatur wilayah bermukim, tata kehidupan sosial, serta hubungan kekerabatan dengan struktur kekuasaan kerajaan saat itu.

Ia menambahkan bahwa batas wilayah leluhur mereka ditandai oleh tiga aliran sungai, yakni Salu Mamunyu, Salu Tumuki, dan Salu Ampallas. Ketiga sungai tersebut menjadi tapal batas sekaligus ruang hidup masyarakat Salu Tallung Kaju dalam wilayah Kerajaan Mamuju.

“Kami ada di Mamuju karena lahir dari kesepakatan leluhur kami dengan leluhur Kerajaan Mamuju. Salu Mamunyu, Salu Tumuki, dan Salu Ampallas adalah tapal batas leluhur kami yang menjadi tempat bermukim kami di wilayah kerajaan,” tambahnya.
Mamuju 25/2/2026

Seiring perkembangan zaman, eksistensi Salu Tallung Kaju tetap terjaga melalui pewarisan nilai adat, penghormatan terhadap leluhur, serta pelestarian sejarah lisan yang terus dituturkan dari generasi ke generasi. Di tengah modernisasi, identitas kehadatan ini menjadi pengingat bahwa struktur sosial masyarakat Mamuju tidak hanya dibangun oleh administrasi pemerintahan modern, tetapi juga oleh fondasi adat dan kesepakatan masa lampau.

Gaji Tuntas, FORPMAT Ingatkan Lagi soal Atribut Kerja

Kisah Salu Tallung Kaju menjadi bagian penting dari mosaik sejarah Mamuju—sebuah penegasan bahwa adat, wilayah, dan kesepakatan leluhur memiliki peran besar dalam membentuk tatanan masyarakat yang ada hingga hari ini. (Nandes)

Bagikan

× Advertisement
× Advertisement